Yohanes Chandra Ekajaya Dosa Sinetron Anak Jalanan

Dok. Yohanes Chandra Ekajaya

Dok. Yohanes Chandra Ekajaya

Siapa yang tidak tahu dan belum pernah menonton Sinetron Anak Jalanan yang akhir-akhir ini sedang naik daun. Sinetron yang tayang di salah satu televisi swasta ini mampu menyedot banyak perhatian pemirsa Indonesia. Banyak komentar positif dan negatif dari sinetron ini. Terutama ketika Boy peran utama dalam sinetron ini diceritakan mati. Masyarakat yang kurang suka dengan sinetron ini termasuk Yohanes Chandra Ekajaya, sudah berbahagia bahwa sinetron ini akan segera berakhir, namun ternyata mereka salah prediksi, karena justru kematian Boy dalam sinetron ini membuat sutradara melanjutkan cerita baru dengan peran tokoh utama lain.

Buktinya, rating sinetron yang dibintangi Steffan William (Boy) dan Natasha Wilona (Reva) ini mampu menyentuh angka 6,5 dengan share sebanyak 30,2 persen. Angka itu merupakan yang tertinggi di antara program televisi lainnya. Meski begitu, sayangnya rating yang tinggi lantas tidak diimbangi dengan kualitas tayangan itu sendiri. Seperti kebanyakan sinetron Indonesia lainnya, Anak Jalanan disebut-sebut tidak mendidik. Berikut Yohanes Chandra Ekajaya akan merangkum dosa-dosa yang dinilai timbul dari sinetron Anak Jalanan.

Pertama, Antara Judul dan Cerita Tak Sesuai

Dosa yang paling kentara terlihat pada judul. Jika mendengar kata Anak Jalanan, logikanya sinetron ini bercerita tentang kehidupan anak-anak kurang beruntung yang terpaksa hidup di jalan dengan mengamen, dsb. Tapi, tidak dengan sinetron ini. Anak Jalanan justru bercerita tentang kehidupan anak-anak orang kaya yang mampu membeli dan mempunyai motor besar. Mereka berseliweran di jalan secara berkelompok seolah ingin pamer. Ya, itu merupakan hal yang kurang disukai oleh Yohanes Chandra Ekajaya karena secara tidak langsung merubah pandangan masyarakat tentang anak jalanan.

Kedua, Memberi kesan bahwa geng motor itu keren

Kalau kamu mendengar berita-berita terkait geng motor, mereka itu identik dengan gerombolan bermotor yang suka bikin onar. Enggak heran, mereka sering dijadikan sasaran tangkapan polisi. Tapi, tidak demikian di sinetron ini. Geng motor seolah ingin dibuat kesan keren dengan motor-motor besarnya yang dikenal berharga mahal.

Dok. Yohanes Chandra Ekajaya

Ketiga, Mengajarkan balapan liar dan pemecahan masalah dengan keributan

Meski geng motor di Anak Jalanan datang dari orang-orang kaya yang mampu membeli motor besar, sayang kelakuan mereka tak jauh beda dengan geng motor kebanyakan. Mereka cenderung menyelesaikan masalah dengan keributan sampai harus berurusan dengan polisi. Selain itu, mereka juga kerap balapan liar di jalan.

Keempat, Syuting di Masjid yang menganggu ketenangan orang

Selain memberikan dampak buruk lewat tayangannya, sinetron ini juga dinilai negatif melalui proses syutingnya. Mengambil tempat syuting di masjid, kru dan pemain sinetron Anak Jalanan seolah tidak mengindahkan kekhusyuan jamaah masjid. Mereka diprotes karena dinilai mengganggu ketenangan orang saat sedang beribadah.

Kelima, Memberi contoh yang tidak baik pada anak-anak

Nah, yang terbaru, sinetron ini terbukti memberikan contoh yang tidak baik bagi anak-anak Indonesia. Diduga terinspirasi dari sinetron Anak Jalanan, dua bocah ini tanpa malu-malu saling bermesraan dilanjutkan dengan berciuman. Di foto yang tersebar melalui media sosial itu, si bocah bercerita #udah kaya Reva sama Boy (tokoh sinetron Anak Jalanan). Tak cuma belajar mesum, bocah ini juga belajar konsumtif, tercermin dari kata-kata lanjutannya ini #Tinggal minta NINJA (nama tipe/model motor) sama mama.

Duh, miris sekali. Melihat realita seperti itu, KPI sendiri selaku Komisi Penyiaran Indonesia sudah pernah memberikan teguran terhadap sinetron Anak Jalanan. Tak cuma sekali, KPI sudah menegurnya beberapa kali. Selain adegan kekerasan kelompok bermotor, adegan tak senonoh juga jadi sorotan KPI atas sinetron ini.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*